Batam, ProLKN.id – Negara Indonesia memiliki ciri khas beragam salah satunya sebuah penutup kepala berwarna hitam dan bahannya berteskstur bludru masyarakat indonesia mengenalnya dengan sebutan Peci Hitam.
Bagi seorang muslim Indonesia, pastinya sangat tidak asing lagi dengan benda yang sering digunakan oleh kaum laki-laki ketika sedang ibadah sholat ataupun untuk acara-acara tertentu yang masih berbau religi. Konon asal usul sejarahnya sangat kental dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia, sampai pada tokoh-tokoh nasional di negara indonesia.
|Baca Juga: Mengenal Dan Memahami Sejarah Peristiwa G30s PKI
Selain membahas sejarah asal usul peci hitam, artikel ini juga akan menjelaskan kenapa peci hitam sering digunakan oleh seorang tokoh nasional dan tokoh-tokoh lain yang sangat dihormati.
Nah, pasti kamu penasaran bagaimana sejarah asal usul peci hitam yang jarang diketahui, kan? yuk kita simak penjelasannya yang sudah dikumpulkan oleh Tim ProLKN.id dari berbagai sumber.
Berdasarkan Buku Api Sejarah edisi pertama halaman 382 karya sejarawan ternama Ahmad Mansyur Suryanegara mencertitakan bahwa sang pelopor dari peci hitam ini adalah Hadji Omar Said Cokroaminoto atau HOS Cokroaminoto pada sekitar tahun 1916.

Selain itu berdasarkan buku otobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Tokoh seperti Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan.
Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Jika kita lihat gambar Wahidin dan Cipto memakai blangkon, itu sebelum 1920-an. Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini.
Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju eropa.
Maka para siswa yang memakai blangkon dan sarung batik jika dari”Jawa”. Bagi yg datang dari Maluku atau Menado, yang biasanya beragama Kristen, boleh memakai pakaian eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi. Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi-bagi penduduk dari segi asal-usul “etnis”dan “agama”.
|Baca Juga: Sejarah Lahirnya Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia
Maka banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat “kemajuan”, modernisasi. Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial “divide et impera” dan penolakan terhadap adat lama. Lalu apa gantinya?

Pada Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai peci. Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang,dan ia memakai peci. Tapi ia sebenarnya takut diketawakan. Tapi ia berkata pada dirinya sendiri, kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru.
Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap. Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate. Setelah ragu sebentar, ia berkata kepada diri sendiri:
“Ayo maju. Pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuk SEKARANG!!!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. “Setiap orang memandang heran padaku tanpa kata‐kata”, kata Bung Karno mengenangkan saat itu.
Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara. “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.” Peci, kata Bung Karno pula, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu”.
Dan itu “asli kepunyaan rakyat kita. Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya,peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”

Maka tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci. Kesimpulan bawah sesungguhnya peci itu bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya.
Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban.
Namun, serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa.
“Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan.
Lucunya, orang-orang arab yang dipandang sebagai penyebar peci atau songkok di tanah Melayu malah meninggalkan tradisi itu. Sehingga pengamat sejarah berspekulasi soal keberadaan peci Indonesia.

Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi.
Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman.
Namun bentuk peci agak berbeda. Pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab
Konon, peci juga merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama Kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

Kuluk ini mirip kopiah, hanya ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hanya ketakwaan yang membedakan.
Ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. PECI berasal dari kata PE (artinya delapan) dan CHI (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.
Tidak ada sumber yang pasti tentang siapa penemu peci beberapa versi cerita yang beredar di masyarakat tentang sejarah peci. Salah satunya adalah bahwa peci diperkenalkan oleh para pedagang Arab yang menyebarkan Islam ke tanah Melayu pada abad ke-13 saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Seorang peneliti sejarah dari belanda bernama Jean Gelman Taylor, juga pernah meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, ia menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat. Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka.
Dilihat dari sejarah peci sendiri, memang pertamanya dari datangnya pengaruh pedagang Timur Tengah di Nusantara waktu itu yang awalnya dari sorban berkembang jadi peci atau dari topi Fez khas turki dan dimodifikasi oleh warga lokal, namun peci tidak identik dengan Islam.
|Baca Juga: Sejarah Singkat OPM Organisasi Terlarang di Indonesia
Peci adalah penutup kepala yang bisa digunakan oleh banyak orang dari berbagai agama dan budaya. Secara garis besar Peci bukanlah syarat atau sunnah dalam beribadah. Peci juga tidak menunjukkan tingkat keimanan atau kesalehan seseorang melainkan Peci adalah warisan budaya yang patut dihormati dan dilestarikan. (Vhi)