Prolkn.id – Siapa yang tidak mengenal Kota Palembang jika mengingatnya yang terlintas dalam pikiran kita pasti adalah jembatan Ampera, atau wisata kulinernya yang terkenal dengan nama Pempek-Pempek atau dengan kain songket Palembang-nya yang sangat khas.
Namun selain hal-hal identik tersebut Palembang yang kaya akan sejarah dan budaya, sehingga patut mendapat pengakuan lebih dari sekedar kota Pempek.
Kota Palembang atau yang di kenal dengan “Bumi Sriwijaya” adalah kota tertua di Indonesia. Sejarah Palembang yang pernah menjadi ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara pada saat itu, Kedatuan Sriwijaya, yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9.

Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 16 Juni 683 Masehi menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia.
Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East (“Venesia dari Timur”) dan Serambi Hadramaut, kota ini mendapat julukan Serambi Hadramaut dikarenakan beberapa gelar Habaib yang ada disini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia.
Asal usul nama Palembang mempunyai beberapa versi. Salah satu versi adalah pada saat penguasa Sriwijaya mendirikan sebuah Wanua (kota) yang sekarang dikenal dengan Kota Palembang; Topografi kota Palembang dikelilingi oleh air bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber dari anak sungai maupun rawa bahkan menurut data statistik 1990, Palembang masih terdapat 50% tanah yang tergenang oleh air (rawa).
Berkemungkinan karena kondisi topografi inilah nenek moyang orang Palembang menamakan kota ini sebagai Pa-lembang yang bermakna Pa atau Pe sebagai suatu tempat atau keadaan dan Lembang atau Lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa Melayu Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.
Salah satu versi yang lain juga mengaitkan Palembang dengan kata dalam bahasa Jawa, “limbang”, yang berarti membersihkan biji atau logam dari tanah atau benda-benda luar lain. Pemisahan dilakukan dengan bantuan alat berupa keranjang kecil untuk mengayak tanah berkandungan logam atau biji di aliran sungai.

Sedangkan”Pa” adalah kata depan yang dipakai orang Jawa untuk menunjuk suatu tempat berlangsungnya usaha atau keadaan. Versi ini terkait erat dengan peran Palembang pada masa lalu sebagai tempat mencuci emas dan biji timah. Versi lain menghubungkan Palembang dengan kata “lemba”, yang berarti tanah yang dihanyutkan air ke tepi.
Kota ini dianggap sebagai salah satu pusat dari Kedatuan Sriwijaya, Serangan Rajendra Chola dari Kerajaan Chola pada tahun 1025, menyebabkan kota ini hanya menjadi pelabuhan sederhana yang tidak berarti lagi bagi para pedagang asing.
Selanjutnya berdasarkan kronik Tiongkok nama Pa-lin-fong yang terdapat pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178 oleh Chou-Ju-Kua dirujuk kepada Palembang. Berdasarkan kisah Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan disebutkan seorang tokoh dari Kediri yang bernama Arya Damar sebagai bupati Palembang turut serta menaklukan Bali bersama dengan Gajah Mada Mahapatih Majapahit pada tahun 1343.
Pada awal abad ke-15, kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Tiongkok. Armada bajak laut Chen Zuyi kemudian ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407.
Kemudian sekitar tahun 1513, Tomé Pires seorang apoteker Portugis menyebutkan Palembang, telah dipimpin oleh seorang patih yang ditunjuk dari Jawa yang kemudian dirujuk kepada kesultanan Demak serta turut serta menyerang Malaka yang waktu itu telah dikuasai oleh Portugis.
Palembang muncul sebagai kesultanan pada tahun 1659 dengan Sri Susuhunan Abdurrahman sebagai raja pertamanya. Namun pada tahun 1823 kesultanan Palembang dihapus oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar dan permukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.
Sejarah Jembatan Ampera
Berbicara soal kota Palembang tentu tidak terlepas dari pesona sebuah jembatan di kota palembang yang dikenal dengan nama Jembatan Ampera, Jembatan Ampera adalah salah satu spot bersejarah dan ikonik di Indonesia, yang merupakan sarana penting bagi masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Fasilitas Jembatan Ampera ini menghubungkan daerah Seberang Ulu dan seberang ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan Ampera sempat mengalami perubahan nama hingga aktivitas sejak dibangun.
Menurut website Pemerintah Kota Palembang, Jembatan Ampera dibangun pada tahun 1962 dengan biaya dari harta rampasan perang Jepang. Mengutip Balai Diklat Keuangan Palembang, Jembatan Ampera diresmikan pada tanggal 10 November 1965.
Awalnya, jembatan ini sempat diberi nama Jembatan Soekarno, sebagai ungkapan terima kasih Provinsi Sumatera Selatan kepada Presiden Soekarno dalam merealisasikan cita-cita masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang. Namun berubah seiring kondisi politik tanah air.
Nama jembatan pun disamakan dengan slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960, yaitu Amanat Penderitaan Rakyat atau disingkat menjadi (Ampera). Nama ini juga sebagai sebuah simbol kemerdekaan dari Amanat Penderitaan Rakyat Palembang itu sendiri.

Jembatan Ampera pada mulanya dirancang agar bagian tengahnya bisa dinaikkan. Sehingga kapal-kapal besar yang melintas tak tersangkut badan jembatan. Terdapat peralatan mekanis berupa dua bandul pemberat yang masing-masing seberat sekitar 500 ton di dua menara jembatan.
Namun, pada tahun 1970, aktivitas naik turun pada bagian tengah jembatan tidak dilakukan lagi. Hal ini karena waktu untuk mengangkat jembatan yang cukup lama. Untuk satu kali proses penaikan bagian tengah jembatan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.
Pertimbangan lainnya yaitu semakin berkurangnya kapal-kapal besar yang melintasi Sungai Musi. Sehingga, pada tahun 1990, kedua bandung di dua menara jembatan diturunkan.

Pewarnaan cat pada Jembatan Ampera pun mengalami beberapa kali perubahan. Pada awalnya, jembatan ini diberi warna abu-abu. Kemudian, pada sekitar 1970 sampai 1980-an berubah warna menjadi kuning. Lalu berubah lagi menjadi merah hingga sekarang.
Jembatan Ampera memiliki panjang 1,117 meter dan lebar 22 meter. Tinggi jembatan adalah 11,5 mdpl, sedangkan, tinggi menara adalah 63 meter dari tanah untuk Jarak antar menara sekitar 75 meter. Sementara, berat jembatan berkisar 944 ton.

Dalam buku Ensiklopedia: Seni, Budaya, dan Pariwisata Kota Palembang karya Syarifuddin, dkk, Jembatan Ampera dibangun oleh tenaga ahli dari Jepang menggunakan dana hasil rampasan saat perang Jepang.
Pembangunan jembatan tersebut memakan biaya sebesar 2,5 milyar, dengan memanfaatkan tenaga konstruksi yang didatangkan langsung dari Jepang.
Saat ini kota Palembang dengan segala keindahan dan metropolitannya menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara dan wisatawan indonesia itu sendiri.
Nah, sobat ProLKN-ners itulah beberapa informasi tentang sejarah kota Palembang dan sejarah dibangunnya Jembatan Ampera, Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan membantumu ya, lur. (Vivhi)
Referensi:
- wikipedia
- palembang.go.id/profil/sejarah-kota-palembang