Batam, ProLKN.id – Perkembangan kecerdasan buatan, Artificial Intelligence, (AI) yang kian pesat kini tidak hanya menjadi topik diskusi di kalangan pakar teknologi, tetapi juga mulai mengancam eksistensi berbagai profesi.
Sebuah laporan terbaru dari Microsoft, yang menganalisis jutaan percakapan pengguna dengan chatbot AI mereka, mengungkap bahwa setidaknya 40 jenis pekerjaan berisiko tinggi untuk digantikan oleh teknologi AI. Namun, di sisi lain, laporan tersebut juga menyajikan daftar pekerjaan yang diperkirakan masih relatif aman dari disrupsi AI.
Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft ini berfokus pada bagaimana AI generatif dapat membantu atau bahkan menggantikan berbagai tugas dalam dunia kerja. Analisis ini didasarkan pada data anonim dari sekitar 100.000 percakapan pengguna dengan Bing Copilot, chatbot berbasis AI milik Microsoft, yang dikumpulkan antara Januari hingga September 2024.

Data pengguna dari Amerika Serikat ini kemudian disesuaikan dengan data pekerjaan dari O*NET dan BLS (Bureau of Labor Statistics) untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa AI mendukung banyak tugas, khususnya dalam penelitian, penulisan, dan komunikasi, namun tidak berarti AI mampu sepenuhnya menggantikan seluruh profesi,” ujar Kiran Tomlinson, peneliti utama Microsoft Research di kutip ProLKN.id dari Media Fortune Jumat (08/08/2025).
Laporan ini mengukur potensi dampak AI terhadap setiap profesi melalui skor AI applicability, yang berkisar dari 0 hingga 1. Skor yang lebih tinggi menunjukkan kemungkinan yang lebih besar bagi AI untuk membantu atau bahkan menggantikan pekerjaan tersebut.
Profesi di Garis Depan Ancaman AI
Dari analisis tersebut, terungkap bahwa profesi yang paling rentan digantikan oleh AI mencakup bidang-bidang yang banyak melibatkan tugas repetitif, pengolahan data, dan komunikasi berbasis teks. Penerjemah dan juru bahasa berada di urutan teratas daftar pekerjaan yang paling terancam, dengan skor AI applicability mencapai 0,49 dari 1.00. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat kemampuan AI dalam menerjemahkan bahasa secara instan dan akurat semakin meningkat.
Selanjutnya, sejarawan (0,48/1.00) juga masuk dalam daftar profesi yang rentan. AI mampu memproses dan menganalisis volume data historis yang sangat besar, memungkinkan penemuan pola dan wawasan baru yang mungkin sulit dijangkau oleh manusia. Pramugari (0,47/1.00) juga berada di posisi yang cukup berisiko, di mana AI dapat mengotomatisasi banyak aspek layanan pelanggan di udara, mulai dari informasi penerbangan hingga permintaan khusus.
Profesi lain yang juga teridentifikasi memiliki risiko tinggi antara lain:
- Penulis dan Pengarang: AI generatif kini mampu menghasilkan konten tulisan yang kreatif dan informatif, mulai dari artikel berita, skrip, hingga karya fiksi.
- Sales Layanan Jasa: AI dapat mengelola interaksi pelanggan, menjawab pertanyaan, dan bahkan melakukan penjualan secara otomatis.
- Staf Layanan Pelanggan: Chatbot AI semakin canggih dalam menangani keluhan, memberikan dukungan teknis, dan melayani pertanyaan pelanggan.
- Programmer Mesin CNC: Otomatisasi dalam manufaktur semakin meluas, termasuk dalam pemrograman mesin produksi.
- Operator Telepon: Peran operator telepon semakin tergantikan oleh sistem otomatis dan layanan pelanggan berbasis AI.
- Agen Tiket dan Travel: Pemesanan tiket dan perencanaan perjalanan dapat dilakukan sepenuhnya melalui platform online yang didukung AI.
- Penyiar Radio dan DJ: AI dapat menghasilkan konten audio, termasuk musik dan narasi, serta mengelola siaran.
- Petugas Administrasi Pasar Modal (Brokerage Clerks): AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas administratif dalam dunia keuangan.
- Pengajar Manajemen Pertanian dan Rumah Tangga: AI dapat menyediakan materi pembelajaran dan panduan praktis.
- Telemarketing: AI dapat melakukan panggilan telepon otomatis dan berinteraksi dengan calon pelanggan.
- Resepsionis Hotel: AI dapat mengelola pemesanan, check-in, dan memberikan informasi kepada tamu.
- Ilmuwan Politik, Reporter dan Jurnalis, Ahli Matematika: AI dapat membantu dalam analisis data, riset, dan penulisan laporan.
- Penulis Teknis, Editor Naskah, Pemandu Tamu (Host/Hostess), Editor, Dosen Bisnis, Humas, Promotor Produk, Sales Iklan, Petugas Akun Baru, Asisten Statistik, Petugas Sewa & Konter, Data Scientist, Penasihat Keuangan, Arsiparis, Dosen Ekonomi, Web Developer, Analis Manajemen, Ahli Geografi, Model, Analis Riset Pasar, Operator Telekomunikasi Darurat: Berbagai tugas dalam profesi-profesi ini, mulai dari analisis data, penulisan, hingga interaksi, memiliki potensi besar untuk dibantu atau digantikan oleh AI.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh teknologi AI generatif tidak lagi terbatas pada sektor teknologi semata. Dampaknya telah merambah ke berbagai bidang publik yang sebelumnya dianggap aman, seperti media, pendidikan, keuangan, pariwisata, hingga layanan pelanggan.
Pekerjaan yang Masih Bertahan dari Gempuran AI
Meskipun banyak profesi yang terancam, laporan Microsoft juga mengidentifikasi daftar pekerjaan yang diperkirakan masih cukup aman dari ancaman AI. Profesi-profesi ini umumnya menuntut keterampilan manual yang tinggi, tenaga fisik, intuisi, serta kemampuan penilaian dalam situasi kompleks yang belum dapat direplikasi oleh kecerdasan buatan.
Beberapa contoh pekerjaan yang dinilai masih relatif aman meliputi:
- Operator Kapal Keruk, Penjaga Jembatan dan Bendungan, Operator Instalasi dan Sistem Pengolahan Air: Pekerjaan ini membutuhkan pengawasan fisik dan penanganan peralatan berat di lingkungan yang spesifik.
- Pembuat Cetakan dan Inti Logam (Foundry), Operator Mesin Pemancang (Pile Driver), Tukang Amplas dan Finishing Lantai: Keterampilan tangan dan presisi dalam pekerjaan fisik sangat krusial di sini.
- Petugas Rumah Sakit (Orderlies), Pengemudi Perahu Bermotor, Operator Peralatan Penebangan Kayu, Tukang Ganti dan Perbaiki Ban: Interaksi fisik dengan pasien, pengoperasian alat berat, dan pekerjaan lapangan lainnya sulit digantikan AI.
- Petugas Pengangkut Sampah dan Daur Ulang, Petugas Sedot Septik dan Pembersih Pipa Saluran Air Limbah: Pekerjaan ini melibatkan tugas fisik yang berat dan seringkali di lingkungan yang kurang ideal.
- Pemasang dan Teknisi Katup serta Sistem Kontrol, Tukang Pengikat dan Pengait Beban (Riggers): Membutuhkan keahlian teknis dan fisik yang spesifik dalam pemasangan dan pemeliharaan sistem.
- Nelayan dan Pekerja Terkait Perikanan, Asisten Tukang Pipa dan Tukang Ledeng, Pekerja Besi Tulangan dan Beton (Rebar Workers): Keterampilan tangan, kekuatan fisik, dan kemampuan adaptasi di lapangan menjadi kunci.
- Pekerja Hutan dan Konservasi, Pembersih Bahan Berbahaya, Pekerja Struktur Besi dan Baja Bangunan, Tukang Cat Bangunan dan Pemeliharaan, Tukang Plester dan Semen Dinding: Pekerjaan ini melibatkan tugas fisik di luar ruangan, penanganan material, dan keterampilan kerajinan tangan.
- Pelatih Fisik (Athletic Trainers), Pengawet Jenazah (Embalmers), Insinyur Kapal, Terapis Pijat, Ahli Atap (Roofers): Profesi-profesi ini sangat mengandalkan sentuhan fisik, empati, dan penanganan kasus yang unik.
- Operator Mesin Penggali dan Pengangkut (Dragline, Excavator), Pekerja Isolasi Lantai, Dinding, dan Langit-langit, Tukang Las, Pemotong, dan Penyambung Logam, Tukang Ledeng, Pembuat Boiler dan Tangki Tekanan (Boilermakers): Keahlian teknis dalam mengoperasikan mesin berat dan melakukan pekerjaan konstruksi menjadi prioritas.
- Teknisi Perbaikan Peralatan Rumah Tangga, Petugas Pemadam Kebakaran, Operator Derek dan Menara, Petugas Pengendalian Hama, Masinis dan Pengawas Kereta Api, Asisten Bedah, Operator Kereta Bawah Tanah dan Trem: Semua profesi ini membutuhkan keterampilan praktis, pengambilan keputusan cepat dalam situasi darurat, dan interaksi fisik yang tidak dapat digantikan oleh AI.
Studi ini menjadi pengingat penting bahwa transformasi digital melalui AI bukanlah isu masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Informasi ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai bentuk kesadaran dan dorongan bagi para pekerja untuk mulai beradaptasi, meningkatkan keterampilan, dan mengeksplorasi bagaimana AI dapat menjadi alat bantu yang memberdayakan, bukan sekadar ancaman.
Memahami potensi dampak AI terhadap bidang pekerjaan masing-masing adalah langkah awal yang krusial untuk menghadapi masa depan dunia kerja yang terus berubah.
(Vhi/Tim)
Referensi:
kompas.com, Fortune